Melalui Ipsos Growth Forum 2026, Ipsos Indonesia Ajak Pelaku Industri Pahami Brand Equity dengan Konteks Pasar

JagatBisnis.id, Jakarta, 23 September 2026 – Di tengah perubahan sentimen konsumen dan meningkatnya kehati-hatian dalam berbelanja, brand perlu melihat kembali bagaimana pertumbuhan dapat dibangun.

Melalui Ipsos Growth Forum 2026, Ipsos Indonesia mengajak para pelaku industri untuk memahami bagaimana brand equity perlu berjalan beriringan dengan konteks pasar agar dapat mendorong pertumbuhan yang nyata.

Mengangkat tema “The Real Equation of Growth: Brand Equity in Market Context”, forum ini membahas perubahan realitas konsumen Indonesia dan bagaimana brand dapat tetap relevan serta memenangkan peluang pertumbuhan di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Berdasarkan Ipsos Global Consumer Confidence Index, Consumer Confidence Index Indonesia pada Agustus 2026 berada di angka 53,9, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dari 30 negara yang diukur, meningkat dari peringkat ke-10 pada Juli. Namun, peningkatan posisi tersebut juga dipengaruhi oleh melemahnya sentimen di sejumlah  negara lain. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbaikan pada Agustus 2026, konsumen Indonesia masih menghadapi berbagai tekanan yang memengaruhi cara mereka mengambil keputusan. Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan, daya beli, dan situasi investasi masih menjadi bagian dari sentimen konsumen.

Managing Director Ipsos Indonesia, Hansal Savla mengatakan bahwa perubahan sentimen tersebut perlu menjadi perhatian bagi brand dalam memahami perilaku konsumen.

“Kita melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian,” papar Hansal.

Kekhawatiran terhadap biaya hidup juga masih menjadi faktor utama yang membentuk realitas konsumen. Pada Agustus 2026, 81% masyarakat Indonesia menyatakan khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, sementara kekhawatiran terhadap tingkat pengangguran meningkat menjadi 45%, dibandingkan 35% pada April 2026.

Dalam kondisi tersebut, Ipsos melihat bahwa konsumen diperkirakan akan tetap berhatihati dan selektif dalam melakukan pengeluaran hingga akhir tahun. Kondisi ini menjadi bagian dari apa yang disebut Ipsos sebagai “The New Consumer Reality.”

Namun, perubahan perilaku konsumen tidak serta-merta berarti brand harus berhenti membangun desire dan brand equity. Justru, tantangannya adalah bagaimana kekuatan sebuah brand dapat diterjemahkan menjadi pembelian nyata di tengah berbagai faktor yang memengaruhi keputusan konsumen.

Lioni Halim, Country Service Line Group Director – Brand Health Tracking & Creative Assessment, Ipsos in Indonesia, menjelaskan bahwa terdapat kesenjangan yang sering terjadi antara brand yang disukai konsumen dengan performa aktualnya di pasar.

“Sering kali terdapat kesenjangan antara preferensi terhadap sebuah brand dengan pangsa pasar yang sebenarnya. Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat,” ujar Lioni.

Menurut Lioni, konteks pasar memiliki peran penting dalam mengubah preferensi konsumen menjadi pembelian aktual. Di Indonesia, dampak faktor pasar disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan rata-rata global. Hal ini menunjukkan pentingnya memahami faktor-faktor yang membuat konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli sebuah brand.

Lebih lanjut, Lioni menjelaskan bahwa distribusi dan assortment memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan promosi dan harga dalam mendorong pertumbuhan.

“Brand yang kuat mampu menciptakan keinginan di benak konsumen. Namun, untuk memenangkan pertumbuhan, brand juga perlu memastikan bahwa konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk tersebut. Di sinilah brand equity perlu bertemu dengan konteks pasar,” urai Lioni.

Melalui forum ini, Ipsos Indonesia mengajak para pelaku industri untuk melihat pertumbuhan dari perspektif yang lebih menyeluruh —bukan hanya tentang seberapa kuat sebuah brand membangun preferensi, tetapi juga seberapa mudah konsumen dapat memilih dan membelinya di tengah dinamika pasar. Karena pada akhirnya, pertumbuhan terjadi ketika brand equity bertemu dengan realitas pasar.


ABOUT IPSOS

Ipsos is one of the largest market research and polling companies globally, operating in 90 markets and employing nearly 20,000 people.

Our passionately curious research professionals, analysts and scientists have built unique multi-specialist capabilities that provide true understanding and powerful insights into the actions, opinions and motivations of citizens, consumers, patients, customers or employees. Our 75 business solutions are based on primary data from our surveys, social media monitoring, and qualitative or observational techniques.

“Game Changers” – our tagline – summarizes our ambition to help our 5,000 clients navigate with confidence our rapidly changing world.

Founded in France in 1975, Ipsos has been listed on the Euronext Paris since July 1, 1999. The company is part of the SBF 120, Mid-60 indices, and is eligible for the Deferred Settlement Service (SRD). ISIN code FR0000073298, Reuters ISOS.PA, Bloomberg IPS:FP

http://www.ipsos.com
35 rue du Val de Marne
75 628 Paris, Cedex 13 France. Tel. +33 1 41 98 90 00