Belajar dari Tsunami Covid-19 di India, Perketat 3M dan Tingkatkan Kewaspadaan
JagatBisnis.id, 29 April 2021 – Perkembangan kasus Covid-19 di dunia menunjukkan adanya gelombang dan varian baru yang terjadi di sejumlah negara seperti di India. Berbagai upaya harus terus dilakukan demi mencegah kejadian serupa agar tidak terjadi di Indonesia.
“Pelajaran yang harus kita pegang dari kejadian di India adalah begitu kasus Covid-19 meningkat, maka diikuti oleh meningkatnya fatalitas atau angka kematian. Penyebab pasti dari peristiwa di India belum diketahui seutuhnya,” kata Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana, Bali dalam Dialog Produktif bertema Belajar dari India, Tingkatkan Kepatuhan Prokes Sekarang Juga.
Dialog secara virtual itu digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dan ditayangkan di FMB9ID_IKP pada Kamis (29/4/2021).

Prof. Mahardika menduga, euforia vaksinasi di India menjadi faktor penentu terjadinya peristiwa tsunami Covid-19. “Lingkup vaksinasi di India sebenarnya juga masih sekitar 7% dari jumlah penduduknya. Euforia vaksinasi di sana masih dini. Jangan sampai hal ini terjadi di Indonesia, karena lingkup vaksinasi di Indonesia baru menyentuh angka sekitar 2,5% dari jumlah penduduk,” jelasnya.
“Apa yang terjadi di India masih belum pasti disebabkan oleh mutasi virus Covid-19. Tapi kita belajar bahwa kerumunan dan euforia vaksinasi menjadi faktor terbesar yang membuat terjadinya tsunami Covid-19 di India. Hal ini bisa dicegah dengan bersama-sama mematuhi protokol kesehatan 3M,” imbau Prof. Mahardika.
Seorang mahasiswa Indonesia di India, Agoes Aufiya, menceritakan kondisi di India saat ini. “Dalam 24 jam terakhir, telah terkonfirmasi 379.000 kasus baru sehingga angka kasus aktif mencapai 3 juta dengan kasus kematian mencapai 3.646. Jika melihat laporan ketersediaan ruang ICU Covid-19 di New Delhi, dari 4.821 kamar yang ada, kini hanya tersisa 18 ICU saja,” ujarnya.
KBRI di New Delhi telah memberikan imbauan kepada WNI yang berada di India agar tetap di rumah saja, tetap mematuhi protokol kesehatan, dan memenuhi pasokan logistik agar tidak keluar rumah kalau tidak perlu.
KBRI dan KJRI Mumbai memberikan nomor telepon darurat apabila ada WNI yang memerlukan bantuan atau asistensi. Saat ini, New Delhi memasuki masa lockdown fase kedua yang sudah diperpanjang.
“Lockdown sebelumnya dilakukan pada 20-26 April 2021. Kini diperpanjang 27 April sampai 3 Mei 2021. Untuk keluar rumah ke tempat yang lebih jauh, perlu menggunakan izin tertentu dari pemerintah India,” terang Agoes.
Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr. Ede Surya Darmawan SKM, MDM, pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Oleh karena itu, protokol kesehatan tidak boleh ditawar oleh masyarakat. Harapannya, PSBB dan PPKM Mikro di Indonesia tetap berjalan.
“Konteks utama protokol kesehatan itu adalah menjaga jarak. Artinya, kita tidak boleh berkerumun sama sekali. Kedua. memakai masker. Terakhir, mencuci tangan setelah menyentuh apapun,” sarannya.
Selain memperketat 3M, Dr. Ede mengimbau agar elemen masyarakat waspada. ”Ini tanggung jawab kita bersama, bukan kewajiban individu semata,” tegasnya.